Posted by | Posted in My Life | Posted on 12-09-2008
Dari Ramadhan 1428 H ke Ramadhan 1429 H
Tidak terasa satu tahun sudah berlalu sejak kepergianmu, Sahabatku.
Hari ini kembali aku teringat padamu, pedih tiba-tiba menyesak didadaku.
Menyisakan air bening di pelupuk mataku.
Sahabat…
Aku tidak akan pernah lupakan, hari-hari yang pernah kita lewati bersama.
Ingatkah engkau, ketika pagi buta bersamaku membelah Mahakam yang masih berselimut embun yang beku. Menenteng ransel butut berisi peralatan kita, menyusuri jembatan terpanjang di Muara Muntai. Tak pernah kulihat letih diwajahmu, selalu penuh energi…selalu bangkitkan semangatku….Ini kerja kita…. Tak akan sia-sia… orang-orang menunggu mengalirnya air untuk hidup mereka.
Sahabat…
Aku tidak akan pernah lupa, jari-jari tanganmu yang tak pernah terlihat bersih, selalu hitam dengan sisa olie dan dipenuhi luka. Aku tahu betapa kau cintai semua itu, dalam tidurpun ku yakin mimpimu tentang pompa-pompa kita, panel-panel kita dan genset-genset kita.
Sahabat …
Aku masih ingat, betapa gusarnya sikapmu, karena aku selalu lupa mengembalikan obeng ketempatnya semula, ketika lembaran mika itu tak pernah rapi kubuat dan terkadang ujung-ujung kabel itu tidak terpasang sempurna, aku tidak terlalu kuat, katamu.
Di bengkel kita yang lusuh, yang selalu hangat karena candamu yang terkadang keterlaluan. Dan aku senang, setiap kali kau katakan, biar kamu yang buat kopi dan aku cuci gelasnya.
Ada pertanyaanmu yang tidak pernah aku jawab hingga saat ini, Sahabatku. “Kenapa kamu tidak pernah bisa diam dan tenang? Saat duduk pun kakimu terus kau goyangkan? Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku tidak pernah menyadari bahwa aku begitu. Delapan tahun yang lalu, Aku terlalu kekanakan untuk menyadarinya.
Aku masih ingat ketika malam telah jatuh, pulang dari Tanjung Isuy menuju Jantur, setelah selesaikan tugas kita..akhirnya genset itu kembali bekerja… Kita terjebak dalam lautan rumput-rumput danau, dalam sampan yang kau kayuh, kau berteriak,… tundukkan badanmu! dan aku tahu duri-duri semak melukai tubuhmu.
Sahabatku…
Aku akan selalu ingat, ketika badai besar menghantam kehidupanku, keras jiwamu membangkitkan asaku…” Ini bukan akhir dunia, Ini belum kiamat, Jangan Cengeng! katamu waktu itu. Tetapi suatu ketika, lembut hatimu, menyentuh jiwaku…. “Menangislah, menangislah jika itu bisa melapangkan sesak didadamu, tidakkah kau penat karena selalu berusaha tegar?…Kamu ada diantara orang-orang yang mengiringi langkahku melewati badai itu.
Sahabatku…
Lama kita terpisah ketika tugas memberi pilihan yang lain untukku tetapi aku akan selalu ingat, pertemuan terakhirku denganmu, beberapa hari sebelum kepergianmu untuk selamanya, ketika magrib menjelang, saat buka puasa bersama, kau sodorkan selang air itu dan berkata…” ambillah wudhu, aku akan pegangkan ini, agar tak basah ujung bajumu….” dan sempat kau katakan sebelumnya, tentang kerinduanmu untuk kembali bersujud di depan Baitullah.
Sahabatku…
Aku tahu, Kau tidak akan pernah suka jika aku menangis. Tetapi aku tidak perduli, karena saat ini aku sadar, betapa berartinya persahabatan kita.
Beristirahatlah Sahabatku, dalam tidur panjangmu.
Bermimpilah tentang Kota Mekkah, tentang Baitullah, tentang Hajar Aswad, tentang Madinah yang cantik, tentang Raudah, tentang semua kecintaanmu.
Doaku menyertaimu.



To :OdieMaaf ya..posting Comment mmg g kebukatp krn Od nanya, ya skrg dah di open lagi..Silahkan tu’ ekspresikan diri!tenkyu.
Jikalau Anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali 3 perkara.1. Amal jariyah2. Anak Sholih3. Ilmu yang bermanfaatMudah-mudahan Allah mengampuni semua dosa-dosa sahabat kita. AMin…
to : HeriAmiiin Allahuma Amiin
don’t be sad..ada pertemuan, ada perpisahan..walau menyakitkan, itu pasti akan terjadi..keep fight bunda…
To : OdieThx,Dq.Thats mean alot 4 me