Rindu Mekkah
21
Posted by | Posted in My Article, Tantangan Noto | Posted on 14-12-2008
Pukul 19.30 wita, hari Minggu masih juga harus ke kantor dan pulang terlambat pula. Malam telah sempurna mengiringi perjalanan kembali kerumah. Duduk terdiam di jok belakang, mata saya menatap ke balik kaca jendela, beberapa kali melintasi pintu gerbang-pintu gerbang yang telah banyak terpasang didepan rumah penduduk Tenggarong, berhias lampu warna warni dan bertuliskan “Selamat datang dari tanah suci Mekkah”. Sudah menjadi tradisi, bila tiba waktunya kepulangan jamaah haji maka keluarga yang berada di rumah akan memasang pintu gerbang didepan rumahnya untuk menyambut kedatangan anggota keluarga yang telah selesai menjalankan ibadah haji. Sebuah tanda kebahagian dan kegembiraan dan ucapan syukur kepada Allah SWT.
Tiba-tiba saja hati menjadi melankolis, terhanyut dalam kerinduan yang tidak pernah habis-habisnya. Apalagi belakangan ini, saya dan Ayah lebih sering menyaksikan channel televisi Saudi Arabia, menyaksikan proses ibadah haji yang dilakukan jamaah haji dari seluruh dunia, terutama saat Wukuf di Arafah dan melempar jumrah di Mina. Rindu itu malam ini kembali menyeruak di hati dan seperti biasa selalu menyisakan air bening diujung mata saya.
Masih terasa laksana baru kemarin memandang Ka’bah, tidak pernah bisa hilang bayangannya dari pelupuk mata, meskipun sudah dua tahun berlalu.
Delapan hari berada di Madinah untuk melaksanakan shalat fardhu Arbain, yaitu menjalankan sholat wajib lima waktu sebanyak 40 kali di Masjid Nabawi. Suasana Madinah saat itu dingin menusuk tulang, suhu berkisar antara 8 derajat sampai 16 derajat celcius, dua kali saya diserang hypothermia karena tidak tahan dengan suhu dingin, tetapi Alhamdulillah bersama Ayah, 40 waktu bisa kami jalankan dengan baik. Diantara banyak hikmah yang saya ambil selama di Madinah ada sebuah pelajaran batin yang saya dapatkan, yaitu belajar ilmu tentang Ikhlas. Setiap jamaah haji dan umrah yang berada di Madinah selalu menginginkan untuk bisa Shalat dan berdoa di Raudah, yang berada diantara Makam Rasulullah dengan sebuah Mimbar yang dipakai oleh Rasulullah ketika berkhutbah. Saat itu meskipun sudah satu kali ziarah ke Raudah tapi saya masih berkeinginan untuk ke sana, di hari ketiga, ba’da Subuh sengaja saya tidak keluar untuk sarapan, dengan waklie talkie saya meminta ijin kepada Ayah untuk ke Raudah. Alhamdulillah semua berjalan lancar, meskipun harus berdesak-desakan diantara ribuan jamaah wanita lainnya. Shalat dua rakaat dan berdoa singkat bisa saya lakukan. Pulang ke hotel tempat kami menginap, seorang teman yang berangkat tanpa suami, meminta kepada saya untuk mengantarnya ke Raudah, hati saya terasa berat, karena membayangkan harus menjaga orang lain di antara ribuan jamaah yang berdesakkan menuju Raudah, cukup melelahkan. Saat itu, jujur saya akui sedikit terpaksa menyangupinya dan sepakat untuk membawanya ke Raudah, ba’da Subuh keesokan harinya.
Ketika kami akan berangkat, didalam hati saya berdoa, agar diberikan kemudahan untuk menuju Raudah. Sedikit ragu yang menyelinap dihati saya, mampukan saya menjaga sahabat saya selama di sana, kemudian berangsur hilang berganti dengan kepasrahan kepada pertolongan Allah SWT. Setelah menunggu giliran, karena di depan Raudah jamaah dibagi menjadi beberapa kelompok Asia, Eropa dan Arabia. Tiba saat rombongan jamaah negara-negara Asia, sungguh pertolongan Allah SWT langsung kami terima, seakan jalan terbuka untuk kami, tidak terasa desakan dan gelombang manusia yang biasanya terjadi di depan Raudah, langkah terasa mudah, dan entah kenapa, waktu terasa panjang, shalat yang kami lakukan menjadi lebih khusuk dan semua doa dan permintaan yang ada didalam hati saya habis diungkapkan, sehingga sampai terasa tidak ada lagi doa yang tidak sempat terucapkan, bahkan sempat disaat itu kami membantu seorang Ibu berkebangsaan Malaysia dan seorang putrinya dengan menjaga mereka saat sholat. Sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya tentang keikhlasan. Askar-askar wanita yang biasanya tegas dan tidak meperbolehkan berlama-lama berdoa di Raudah seperti tidak perduli kepada kami.
Saat melakukan umrah pertama, Tawaf kami lakukan dibawah curahan hujan lebat hingga Sa’i selesai dan Tahlul dilakukan. Air yang tertumpah dari langit Mekkah yang kelabu saat itu bercampur dengan air mata keharuan yang selalu tidak bisa saya bendung.
Minggu pertama di kota Mekkah diisi dengan ibadah shalat di Masjidil Haram, kota Mekkah masih sepi, karena kami termasuk rombongan pertama yang datang ke sana dan dari tanah air merupakan kloter pertama. Suhu Mekkah terasa lebih hangat di banding Madinah walaupun masih tetap lebih dingin dibanding suhu normal di Indonesia. Seminggu menjelang keberangkatan ke Arafah untuk melaksanakan Wukuf, suhu Mekkah berubah, biasanya hanya 22 derajat sampai 23 derajat tiba-tiba naik menjadi 33 derajat, sajadah yang biasanya setelah sholat selalu berada dibahu saya agar tidak kedinginan jadi berpindah ke atas kepala untuk menahan panas yang menyengat.
Banyak kejadian yang dialami selain ibadah wajib dan sunat yang dilakukan. Kejadian yang mengandung makna yang terkadang hanya saya pribadi yang bisa memaknainya. Ketika ditanah air saya pernah diberi pesan agar berhati-hati dengan orang bangsa lain meskipun wanita. Tetapi teryata itu tidak terbukti, banyak kejadian yang justru membuat saya merasa aman dan terlindungi, seperti seorang ibu dari Turki yang tanpa diminta memijat kedua kaki saya yang terasa penat karena duduk bersila saat mengaji sambil menunggu waktu Ashar datang. Atau seorang bapak tua yang kalau dilihat dari pakaiannya adalah dari negara Pakistan, memberi saya dua buah gelas berisi air untuk saya berwudhu karena terpaksa harus mengambil wudhu kembali saat kami berada di lantai paling atas Masjidil Haram. Saat itu saya hanya mampu mengambil dua gelas air dari keran air minum, untuk saya berwudhu. Banyak lagi kejadian yang menyadarkan saya bahwa kejadian-kejadian itu adalah cerminan baik dari sikap diri yang penuh kasih sayang kepada siapa saja, menghargai dan tidak pernah dipenuhi curiga apalagi buruk sangka.


Ada lagi sebuah pelajaran hebat yang saya dapatkan, kejadian yang menyadarkan saya bahwa sepanjang hidup saya telah memahami sesuatu yang kurang tepat, sesuatu yang telah mendarah daging dan menjadi arah untuk setiap kali saya perpikir, bersikap dan bertindak, yaitu bahwa hak antara laki-laki dan perempuan adalah sama, saya sangat menghargai persamaan gender dan membenci jika ada yang berani meremehkan perempuan terutama dalam pekerjaan.
Tidak seperti di Masjid Nabawi yang serba teratur, diantaranya adalah terpisahnya ruang antara pria dan wanita, maka di Masjidil Haram semua bergabung, bahkan saf sh
alatpun sulit untuk ditentukan batasannya. Selama dua hari berturut-turut, sholat saya sempat terganggu dengan kehadiran askar-askar yang memperingatkan para jamaah wanita untuk mencari tempat harus dibelakang pria. Hari yang pertama, saya bersama rombongan lainnya yang terdiri dari para wanita berbagai bangsa, harus pindah mencari tempat lain, padahal sangat sulit mencari barisan yang tidak ada kaum pria dibelakang kami, karena Masjidil Haram yang begitu luasnya. Meskipun demikian akhirnya bisa juga mendapat tempat yang tenang. Tetapi besoknya kejadian itu terulang lagi, padahal waktu Ashar tinggal beberapa menit lagi. Diantara kepanikan dan tatapan tajam mata askar masjid, saya bersama beberapa wanita Turki, Afrika Selatan dan beberapa wanita arab, berjalan dengan kebingungan mencari tempat untuk shalat, saat itu didalam hati saya sempat marah bercampur sedih, “Ya Allah, kenapa jadi begini, padahal kami hanya ingin shalat dan menghadap pada-Mu” setelah sempat berjalan sangat jauh sehingga membuat saya terpisah jauh dari Ayah, namun tidak kunjung mendapat tempat yang kosong, Haram benar benar telah penuh sesak, karena adzan Ashar akan segera dikumandangkan. Tetapi tiba-tiba saya melihat seorang askar, persis berada disamping saya, dengan tanpa pikir panjang saya menepuk lengannya, sambil berkata, “ Haji, Annisa..Annisa..Shalat…Shalat…” kemudian mengangkat kedua tangan saya ke arah Ka’bah dan berkata “Allah…Allah..” sekilas saya mengetahui askar itu memahami bahwa kami termasuk wanita-wanita yang diangkat dari saf karena berada didepan pria. Setelah berulang kali meyakinkannya, entah bagaimana disamping askar itu tiba-tiba saja terlihat lapang, padahal sebelumnya mungkin karena panik saya tidak melihat ada tempat kosong disekitar saya. Dan askar itu menunjuk tempat tersebut dengan maksud memperbolehkan kami untuk shalat disana, akhirnya saya dan para wanita yang lain bisa duduk dan saat itulah adzan terdengar. Saya yang masih masih merasa lelah karena kejadian itu menjadi merenung, inilah aturan Allah yang mutlak, tidak mungkin dibantah, sebuah pelajaran untuk saya pribadi tentang pandangan hidup saya meskipun itu berada diluar aturan tentang shalat, kejadian yang menyadarkan bahwa hak wanita telah diatur sempurna oleh Allah SWT, menyadarkan saya bahwa yang saya pahami tentang kesetaraan gender harus banyak dikoreksi dan diperbaiki. Sekali lagi saat itu air mata saya jatuh.
Menuliskan tentang pengalaman ibadah haji, tenyata sampai sepanjang ini, terpaksa harus dibagi menjadi dua bagian, insya Allah akan dilanjutkan dengan saat Wukuf di Arafah dan Melontar Jumrah di Mina. Mudah-mudahan yang membaca berkenan dan tidak bosan. Khususnya untuk seorang sejawat yang pernah meminta saya untuk menceritakannya.






wah ikut terharu membaca perjalanan ibadah hajj bunda. pastinya rindu untuk mengulang kembali ibadah yang satu ini ya bunda.
cita-cita yg belum tercapai ….doain ya bunda..biar bisa menyempurnakan rukun islam amin.. ^_^
Smg kami dapat segera memenuhi panggilan rukun Islam yang ke-5 ini bunda! Doain yaa..
hik hik hik…
to : Bang DedenKalau untuk ke sana…selalu rinduWah, saya jadi ingat PR yang belum dikerjakan.Masih nyari jawabannya Bang..to : Mas DiedienKalu sudah jadi cita-cita trus dilengkapi dengan ikhtiar dan doa, insya Allah pasti tercapai..Semoga Allah mempermudah jalannyato : Nyante Aza LaeIto..yang penting ada niat, saya doa semoga kesampaian yaa..Ya Allah, hamba bermunajat pada-MuSampaikanlah hajat dan cita-cita sahabat-sahabatku, menjalankan ibadah haji dan umrah.Robbana taqobbal minna..Amin Allahuma Amin
to : NotoMas, ntar giliran umrah mudahan kena bebaya yaa..Amin.dan gimana keputusannya? terus atau pindah?saya hanya mencoba mengulangi kata2 kakang mbok, hidup ini udah susah, jangan dibuat lebih susah..lha terus piye? dinikmati atau pergi?(jangan bingung..emang pada gak nyambung..)gimana mie siramnya..duh makin gak nyambungSampai jumpa tahun depan…hiks..hiks..hiks..
Waduh jadi ingat kesan religius lagi nih…..Mudah-mudahan pas Dajjal nanti datang saja lagi berada di Mekkah ato Madinah…..heheheh
to : Anak Tenggarong nge-blogsalah satu tempat yang dijamin Allah SWT tidak akan pernah bisa dimasuki oleh Dajjal adalah Madinah….Kanak Pintar!!Disini lagi Erau..Mulang ke Tenggarong kah ndik??
kita sama2 berdoa ya, saya juga pengen bgt.. ^_^
to : cantigisetulus hati, semoga Kang Deni juga bisa melaksanakannya. Perkenankanlah Ya Allah.
<> All About Samarinda <>Hmmm…kenangan terindah seumur hidup yoooo…! Waktu itu dah aktif nge-blog belon yaaa…???
to : manggIsBujur dengsanak..paling indah dan ndik mungkin kelupanan..dulu dah berempu blog tapi tegaknya lain yang ini hehehe…makaseh yooh
Amiiinnnn…. saling mendo’akan ya bunda… semoga nanti saya bisa kesana
To : Agung MojosariAmiiin..Insya Allah Pak Agung.Allah Maha Mengabulkan.Terima kasih sudah berkunjung.
aku juga rindu sholat nih. masih males malesan.he..he..he..makasih yah udah mendukung diriku ketika menurun…
-NyurianN-
to : NyurianWelcome Back Brother!Sholat deh, biar rindunya terjawabI am happy for u
Salah satu impian yang belum sempat saya wujudkan, adalah mengunjungi mekkah almukaramah. Berharap setiap waktu saya berada disana. Bersujud menghadap kiblat langsung.
to : theKRYInsya Allah, bisa terlaksana.Wah, saya harus panggil gimana nih.Nick name nya ganti gituOk lah theKRY, nama baru, template jg barusegeer…begitu juga postingnya..makin berani
pengen kesana….pengeeen banget, ngajak ortu…hmm…
to : odieYa Allah Ya MujibSesungguhnya Engkau Maha Pengabul DoaSampaikanlah hajat dan niat Saudarakumakasih Odie udah mampir..;)
ya allah kpn yah bisa kesana ?? pengen rasanya menunaikan rukun islam yg k’5 ^_^