Baru saja Ramadhan berlalu, kita semua pasti masih ingat apa saja yang telah kita lakukan selama bulan puasa kemarin. Sudah maksimal apa belum ya ibadah kita ?

Bicara tentang bulan puasa pasti tidak lepas dari Hari Raya Idul Fitri, saat paling bahagia bagi setiap muslim, bersilaturahmi, bermaaf-maafan, pulang kampung,  kumpul bareng keluarga dan yang paling disukai pastinya adalah makanan di Hari Raya, apalagi kalau bukan Ketupat.

Saya terima sebuah email dari seorang sejawat, beliau adalah fans berat Koes Plus, sampai-sampai punya blog yang khusus menulis tentang Koes Plus. Bukan soal Koes Ploes yang ingin saya bahas, tapi tentang isi email yang saya terima,  yaitu tentang Ketupat, yang dalam bahasa Jawa disebut Kupat.

Alhamdulillah, saya mendapat ijin untuk membuat posting tentang KUPAT disini, berikut isi suratnya :

MAKNA KUPAT SEBAGAI MENU HARI RAYA IEDUL FITHRI

Adalah Sunan Bonang yang pertama menyampaikan makna berpuasa melalui simbul-simbul budaya Jawa. Beliau mengambil hadits Nabi Muhammmad SAW : ” barang siapa berpuasa di bulan romadhan dengan iman dan penuh kesungguhan (maka) akan diampuni dosanya yang telah lalu” untuk diterjemahkan kedalam bahasa dan pemahaman budaya jawa yang mudah dimengerti oleh masyarakat yang tingkat pengetahuan dan tingkat ekonominya rendah pada waktu itu, sebagai berikut :” Kita harus berpuasa dangan iklas dan kesungguhan agar nantinya dapat menikmati kupat”.

Kupat yang dimaksud Sunan Bonang adalah LAKU SING PAPAT atau empat keadaan yang dianugerahkan kepada mereka yang berpuasa dengan ikhlas dan kesungguhan, yaitu Lebar, Lebur, Luber, Labur.

LEBAR artinya selesai kewajiban berpuasa, LEBUR artinya terhapus semua dosa-dosanya, LUBER artinya melimpah ruah pahala amal-amalnya, LABUR (Jawa: mengecat dengan warna putih) artinya putih bersih.

Kupat dibungkus oleh JANUR (daun kelapa yang masih muda) yang dimaksud JANUR adalah ”SeJAtining NUR” atau cahaya yang sebenarnya yaitu putih bersih tanpa cela. Jatining Nur itulah sejatinya disebut fitrah sehingga barang siapa yang memperoleh jatining Nur berarti telah kembali ke fitrah ( iedul fithri).

Jatining Nur atau hati yang putih-bersih tersebut diperoleh karena semua dosa kita di masa lalu telah dibersihkan dan diampuni Allah SWT. Nah orang yang mendapat ampunan dari segala dosa itu berhak mendapatkan empat keadaan (LAKU SING PAPAT atau KUPAT).

JANUR dan KUPAT dapat kita jadikan bahan refleksi dalam menjalankan kehidupan/tugas di lingkungan kita bekerja. Bagaimana kita bisa memunculkan rasa IKHLAS disaat menjalankan rutinitas yang kita hadapi, dengan tanpa mengharapkan imbalan apapun dan dari siapapun akan menuntun kita berbuat tidak sewenang-wenang, tidak melanggar hak-hak orang lain dengan tindakan korupsi baik korupsi Materi ataupun korupsi Perilaku.

Dengan rasa SUNGGUH-SUNGGUH dalam menjalankan aktivitas, kita akan dituntun menjadi pegawai yang mempunyai integritas, teguh pendirian dan disiplin.

Semoga posting ini bermanfaat bagi semua, terima kasih buat Pak Toto Sugiharta di Tangerang, sukses selalu, Insya Allah tugas kita akan tercatat menjadi  ibadah dihadapan Allah SWT. Amin.