senior-1

Suatu hari, saat jam istirahat siang, seorang teman mampir ke ruang kerja saya dan menceritakan masalah yang dihadapinya dengan seorang staf senior. Teman saya ini memang baru beberapa minggu mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Dia memang masih muda, namun kariernya berjalan dengan baik, boleh dibilang cukup cepat, siang itu saya memandang wajahnya yang terlihat lelah dengan sedikit legam karena matahari.

”Dari lapangan, nge-check sumber air baru, kemungkinan akan kita ambil alih” katanya. Dia terus bercerita dengan bersemangat tentang apa yang telah dilakukannya, sepertinya masalahnya dengan staf senior tadi telah dilupakannya.

”jadi gimana dengan Pak Senior (kita sebut saja begitu ya biar gampang)?” saya bertanya sambil tersenyum. Sejenak kami berada dalam sebuah diskusi tentang bagaimana menghadapi staf atau rekan kerja senior yang cenderung menunjukkan sikap tidak kooperatif.

Masalah yang dihadapi teman saya itu memang ”sering” terjadi dalam sebuah institusi. Dari yang sekedar sikap dan tindakan ringan seperti perkataan meremehkan sampai ketingkat yang lebih parah, menjadi indisipliner seperti tidak masuk kerja untuk menunjukkan ketidak sukaannya kepada pemimpin yang baru. Ini menjadi tantangan yang punya keindahan tersendiri untuk dihadapi, terutama bagi teman saya sebagai seorang manajer baru.

Walaupun saya bukan seorang yang kompeten dengan masalah yang dihadapinya tetapi karena dia bertanya maka sebisa saya memberikan pandangan untuknya.

Keberadaan Staf bagi seorang Manajer atau Kepala Divisi atau Kepala Bagian atau apapun namanya maka staf adalah asset berharga bagi tim.

(saya memilih menggunakan kata Tim untuk menyebutkan Divisi/Bagian dan Anggota Tim untuk menyebutkan Staf, agar posting ini bisa bermanfaat bagi siapa saja, tidak mesti harus berada dalam sebuah unit kerja yang besar dan formal)

Hal ini berarti keberhasilan seorang manajer dalam memimpin tim, sangat tergantung kepada hasil kerja anggota timnya. Sehebat apapun kemampuan seorang manajer dan sebagus apapun program kerjanya maka sulit akan diwujudkan tanpa dukungan anggota dibawahnya.

Karena staf/anggota tim adalah asset maka perlakukanlah mereka sebagai sesuatu yang bernilai. Libatkan mereka sebagai sumber informasi dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam proses ini akan terjadi komunikasi efektif antara manajer dan anggota tim atau sesama anggota tim. Dan sekaligus membuat anggota tim memahami bahwa sang manajer sangat menghargai pengetahuan dan wawasan mereka.

Proses keterlibatan anggota tim akan membuat mereka menjadi aktif dan antusias. Sehingga terbentuk suatu rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap terget kerja tim.

Bagaimana menangani anggota tim senior yang “spesial” ? Tanggapi hal ini dengan tenang, tidak perlu emosi dan memaksakan anggota senior untuk menerima kita. Setelah proses melibatkan seluruh anggota tim dan komunikasi efektif dilakukan maka tangani senior secara khusus, apalagi senior yang berpengalaman.

Perlakukan dia sebagai seorang ahli dalam pekerjaan, libatkan dia lebih intens, jadikan sebagai tempat bertanya dan berdiskusi dalam penanganan masalah dan pengambilan keputusan, sampai mereka menunjukkan kurangnya keahlian.

Sampai pada posisi ini, maka ambil alih situasi, tunjukkan kemampuan diri dan buat senior menyadari dan mengakui bahwa sang manajer memang layak menjadi atasannya.

Jika cara-cara diatas masih belum mampu merubah prilakunya maka menurut saya yang perlu dilakukan adalah biarkan ia ada didalam tim tetapi jangan biarkan energi manajer terserap habis hanya karena menangani senior ini, tetaplah focus pada target kerja tim dan perhatikan staf lain yang lebih potensial.

Suatu saat dia pasti akan menyadari ada yang salah dengan dirinya, biarkan dia memilih, terlibat didalam tim atau keluar dari tim.

Jangan biarkan kinerja keseluruhan tim terpengaruh karena keberadannya. Show must go on. Anjing menggonggong kafilah berlalu.

Itu pendapat saya, bagaimana menurut Anda?