Setelah lama istirahat total dari segala aktivitas termasuk blogwalking,  Alhamdulillah akhirnya waktu istirahat itu berakhir dan menyempatkan diri untuk jalan-jalan keblog teman tanpa berniat meninggalkan komentar agar mata tidak terlalu lelah.

Malam kemarin saya sempat datang ke blog Teh Desri, mengharu biru hati, air mata saya sempat mengembang basah dipelupuk mata. Sebuah posting yang ditujukan untuk Beranda Hati, “Doa untuk Sahabat”. Begitu banyak yang mendoakan untuk kesembuhan saya dan saya yakin diantara beberapa hal maka doa sahabat  itu telah dikabulkan oleh Allah SWT , yang membuat saya segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti semula. Terima kasih Teh Desri dan semua sahabat, sungguh saya tidak bisa membalasnya, semoga Allah SWT membalasnya dengan limpahan kasih sayang dan kebaikan dunia akhirat.

Pada hari Kamis 10 Desember 2009 adalah kedua kalinya saya berhadapan dengan pisau operasi.  Yang pertama kali sekitar 9 tahun yang lalu ketika Appendix (usus buntu) harus dipotong.  Walaupun prosesnya sangat berbeda dan pisau operasi yang digunakan dokternya berbeda tetapi tetap saja saya merasakan dua macam rasa. Yang pertama adalah rasa takut dan kedua rasa sakit.

Gangguan pada mata sebelah kiri saya dalam bahasa kedokteran disebut Pterigium yaitu tumbuhnya jaringan pada selaput bening (konjungtiva mata). Untuk kasus Pterigium yang saya alami telah masuk ke stadium dua, karena telah tumbuh mengenai  daerah kornea, sehingga harus dilakukan tindakan operasi.

Walaupun bukan termasuk berbahaya tetapi cukup mengganggu karena bentuknya semakin tebal, jadi mudah iritasi dan mata cepat sekali lelah, terasa panas,perih dan silau berlebihan.

Operasinya dilakukan dengan bius lokal pada mata jadi saya bisa menyaksikan langsung bagaimana mata saya disuntik dan ketika alat operasi yang digunakan dokter mengupas mata saya, melihat darah yang muncul diatas mata saya setiap kali tangan dokter bekerja, sungguh menjadi pengalaman yang menegangkan.

Kata orang, ketika salah satu dari panca indra kita tidak berfungsi maka indra kita yang lain akan menjadi lebih peka. Ini saya rasakan ketika mata kiri selama lebih dari dua minggu harus ditutup dengan perban dan selama tiga hari harus berbaring dan lebih banyak memejamkan mata, karena mata kanan saya cepat sekali terasa lelah maka mata kiri yang baru saja dioperasi akan terasa sakit. Karena syaraf kedua belah mata saling berhubungan dan saling menunjang. Jadi yang paling baik adalah mengistirahatkan keduanya dengan memejamkan  mata.

Berbaring diam dalam kegelapan, saya mencoba memilah ada berapa banyak suara yang tertangkap oleh kedua telinga saya, suara mobil yang lewat di jalan raya yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah, suara Paman saya yang sedang berbicara dengan tukang bangunan disebelah rumah, suara anak-anak yang bermain di gang yang berada sekitar 30 meter dari rumah, suara serangga yang ada di rumpun-rumpun pandan pada tanah kosong disebelah kamar saya. Bahkan saya bisa merasakan ada orang yang memasuki kamar walaupun tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Begitu banyak suara yang tertangkap telinga pada waktu bersamaan, dapat saya kenali satu per satu. Pastinya suara-suara ini tidak akan saya perdulikan jika kedua mata saya dalam keadaan sehat.

Saat  indra photoreseptor (mata) tidak berfungsi maka indra mekanoresptor yaitu alat indera yang merespon terhadap rangsangan gaya berat, tegangan suara dan tekanan yakni indra peraba (kulit) dan indra pendengaran (kuping) ternyata menjadi lebih peka.

Saran saya untuk semua sahabat jagalah kesehatan mata Anda dengan baik, jangan ragu menggunakan kaca mata hitam jika beraktivitas diluar dibawah sinar matahari, menghindarkan mata dari debu dan angin serta  memakai kaca mata pelindung khusus jika sedang melakukan pekerjaan tertentu. Karena ptrigium bisa terjadi karena paparan sinar matahari, debu, iritasi terlalu lama dan jika mata pernah mengalami luka.

Dalam kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan terimakasih saya kepada keluarga yang telah merawat saya, untuk suami yang dengan sabar mengganti perban mata setiap hari, membangunkan saya ditengah malam untuk meneteskan obat cair dan salep setiap empat jam. Untuk ibu saya, mohon maaf telah membuat khawatir dan atas keras kepala saya karena tidak mau menginap di RS. Enam jam mengigil menahan sakit sudah cukup untuk saya menyadari betapa keras kepalanya saya. Untuk Egha dan Adek yang sangat memperhatikan saya dan menghitung hari kapan perban mata saya akan dibuka. Dan untuk para sahabat yang telah mendoakan bagi kesembuhan saya.

NB :

Ketika saya menuliskan posting ini, saya sempat berpikir, setelah banyak merenung dalam “kegelapan”,  setelah sempat merasakan bagaimana ketika  nikmat “melihat” yang diberikan oleh Allah ini diambil sebentar, bagaimana jika pengelihatan ini diambil selamanya, apa yang akan saya lakukan? masihkah saya bisa terus menulis?