Love is not just looking into each other’s eyes, but looking outward  together in the same direction

Setiap anak dilahirkan unik dengan kelebihannya sendiri-sendiri. Mereka punya hati dan pikiran yang mungkin sama dengan hati dan pikiran orang-orang dewasa, tetapi mereka punya cara sendiri untuk mengisi ruang hatinya dan mengekspresikan diri.

Anak-anak bisa menjadi “anak nakal” dinilai dari sudut pandang orang dewasa. Tetapi sadarkah kita bahwa “kenakalan” mereka adalah sebuah ekspresi dari apa yang mereka rasakan dan pikirkan, yang mungkin tidak pernah kita sadari, apa dan mengapa.

Kita harus mengajarkan mereka tentang disiplin, tanggungjawab dan nilai-nilai kehidupan, menyuruh mereka giat belajar disekolah, sholat, mengaji atau hal-hal lain tentang nilai sosial, etika dan tata krama. Tetapi jangan lupakan bahwa mereka punya bakat yang unik,  sebuah energi besar yang mewakili dirinya sendiri.

Saya tuliskan posting ini karena saya ingin anak-anak saya mengetahui betapa kami mencintai mereka sepenuh hati dan ingin mereka mengerti bahwa kami akan menjadi apa saja, agar bisa menjadi orang tua terbaik untuk mereka.

Berawal dari sebuah band yang isinya adalah putra sulung kami Egha (kelas 3 SMP) dan dua orang sepupu Boy (kelas 2 SMA) dan Dicky (kelas 3 SMP). Bersama suami harus menemani dan mengantar mereka setiap kali mereka mengikuti pentas parade atau festival dimanapun atau sekali-sekali menemani mereka latihan untuk menilai kualitas musik mereka ( sok jadi manager dikit ;) )

Rupanya mengasah teknik bermusik dan tampil dipentas belum cukup bagi mereka, masih punya keinginan menjadi penyelenggara acara pentas band. Mulanya kami tidak terlalu menanggapi, karena mereka masih mengikuti ujian semester di sekolah. Tapi ketika Egha menyodorkan Proposal Acara dan menjelaskan kesulitan mencari sponsor dalam waktu singkat, saya jadi terenyuh.

Membaca proposalnya membuat saya tersenyum, lumayan bagus untuk ukuran anak sekolahan. Singkat kisah akhirnya orang tua ini harus turun tangan. Hitung-hitung memberikan pengalaman untuk belajar tentang tanggung jawab kepada anak-anak.

screamingoffreedom22

Dengan modal cuma semangat tujuh pemuda tanggung ini bekerja keras mewujudkan keinginan mereka. Membuat sebuah acara agar band-band beraliran rock, metal, underground dan punk Kota Tenggarong bisa tampil bersama, tanpa banyak aturan yang memberatkan, betul betul acara dari, untuk dan oleh mereka.

Boy, Inuck, Egha, Dicky, Taqm, Aries, mengerjakan semua urusan persiapan, dari desain pamplet dan menyebarkannya, backdrop, surat ijin Kepolisian, sewa alat, sound, lighting, setting lokasi, sampai mobilisasi dan demobilisasi (dini hari 1 Januari 2010 ketika hujan lebat mengguyur Kota Raja), semua dikerjakan sendiri, kami hanya mengarahkan apa saja yang harus mereka persiapkan dan lakukan.

Salut dan kagum saya untuk Mereka dan Kelompok Skater Timbau Skate Park Tenggarong yang turut mendukung acara dengan menyediakan tempat dan membentuk Tim Keamanan yang telah bekerja dengan baik.

Acara berjalan lancar, aman dan terkendali, walaupun sempat terhenti sebentar karena gerimis, namun rock must growl, lima belas band sukses tampil. Sedikit kekurangan saya pikir masih bisa ditoleransi, mengingat ini adalah pengalaman pertama untuk mereka.

Terima kasih untuk anak-anak kami tersayang, Boy, Inuck, Egha, Dicky, Aries, Taqm, Hendri, seluruh anggota Timbau Skate Park Tenggarong, dan seluruh band yang tampil di acara ini, serta para pendukung lain seperti : Salon Livhia & TV Kabel, Ababil Distro, dan Verga Music Studio.

Untuk anak-anak kami : “Ini hanya sebagian kecil pelajaran untuk menjadi dewasa”