Waktu magrib telah berlalu, saya sedang memperhatikan si bungsu yang sedang bermain, ketika suami memberitahu bahwa ada seseorang diruang tamu menunggu saya.

Saya memandang seorang anak laki-laki yang ada  didepan saya, perlu beberapa saat bagi saya untuk bisa mengingat namanya, sebelum akhirnya saya duduk didekatnya.

Wawan, namanya. Saya berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali saya berjumpa dengannya, bulan Ramadhan setahun yang lalu, ketika saya dan suami mengantar takjil untuk berbuka puasa ke sebuah langgar didaerah padat penduduk di tengah Kota Tenggarong. Rasanya waktu itu dia masih bocah kecil seperti yang sudah saya kenal, menyapa saya sebentar kemudian menghilang kedalam gang disamping langgar.

Kini Wawan ada didepan saya, duduk diam, tertunduk malu menjawab pertanyaan saya dengan suara pelan. Memakai kemeja kota-kotak warna coklat dan celana bola, rambutnya sekarang dipotong pendek dengan gaya anak anak sekarang, satu dua jerawat kecil tumbuh diwajahnya, Wawan telah beranjak remaja.

Hampir empat tahun yang lalu, ketika Wawan kecil yang setiap jam 2 siang datang ke kantor saya, sambil menenteng tas plastik berisi kue-kue buatan ibunya. Biasanya Wawan akan duduk pada sebuah bangku didepan meja saya, berceloteh riang sambil berusaha mengintip ke layar komputer, kemudian membujuk saya untuk membeli kue-kue yang dijualnya. Sekali dua  saya menyuruhnya membaca Surat-Surat Pendek, dia akan dengan senang hati membacakan Al-Fatihah atau Al-Falaq dengan suara nyaring, sebagai gantinya saya akan memborong kue-kuenya.

Wawan kecil penjual kue, selalu ceria dan seorang anak laki-laki yang tangguh menghadapi persoalan ekonomi keluarganya, kini terlihat lebih dewasa dibanding umurnya.

Ketika saya bertanya bagaiman keadaannya sekarang, dia menjawab dengan suara lirih, dia sudah kelas lima dan tidak bisa berjualan kue lagi,  ibunya baru saja melahirkan anak ke tiga dengan operasi caesar yang sangat mahal biayanya untuk ditanggung oleh bapaknya yang bekerja sebagai penyapu jalanan.

Pelajaran sekolahnya lancar meskipun buku paket untuk kelas lima belum semua dimiliknya, karena buku waktu kelas empat belum lunas dibayar.

Perasaan haru memenuhi dada, saya berusaha mencari semangat Wawan kecil penjual kue pada mata Wawan yang ada didepan, saya sangsi, saya bisa merasakan kegelisahannya, belitan kesulitan ekonomi keluarga, tuntutan kewajiban disekolah dengan segala keterbatasan sarana, menjadikan Wawan Kecil yang biasanya selalu ceria menjadi pemurung dan sekarang saya melihat Seorang Wawan Remaja yang memandang ketidak pastian kepada masa depan.

Saya sempat berpikir tentang bantuan pelayanan kesehatan untuk masyarakat tidak mampu dan bantuan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), kedua program nasional itu setahu saya telah dijalankan di kabupaten tempat tinggal kami.

Sejak Kabupaten Kutai Kartanegara mencanangkan Program Zona Bebas Pekerja Anak (ZBPA) Tahun 2012, yang telah dikukuhkan melalui Perda No 9 Tahun 2004, pekerja anak seperti Wawan semakin berkurang. Sangat baik untuk satu sisi, tetapi semestinya diimbangi dengan terlaksananya program pemerintah yang lainnya, seperti pembangunan Sumber Daya Manusia  melalui peningkatan pendidikan dan dan kesehatan. Pembangunan ekonomi rakyat  dengan menggali potensi daerah Kutai Kartanegara yang sangat kaya untuk pengembangan pertanian dan agrikultur. Belum lagi potensi pariwisata, menurut saya jika dikelola dengan baik dan dimanfaatkan sebesar-besarnya dan seadil-adilnya untuk kepentingan rakyat,  maka Insya Allah tidak akan ada masyarakat Kutai Kartanegara yang mengalami nasib seperti keluarga Wawan.

Saya jadi merenung, saat ini sedang ramainya calon-calon bupati sedang berlomba merebut simpati masyarakat, semoga mereka tidak hanya berkoar-koar dengan program kerjanya, bukan menjual janji, tidak menawarkan lip service, tetapi benar-benar menginginkan kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Jika tidak,  maka pemerintah daerah akan berhadapan dengan banyak Wawan Kecil di Kutai Kartanegara yang risau dengan masa depannya.