Posted by Lyna Riyanto | Posted in My Feature | Posted on 03-02-2010
Waktu magrib telah berlalu, saya sedang memperhatikan si bungsu yang sedang bermain, ketika suami memberitahu bahwa ada seseorang diruang tamu menunggu saya.
Saya memandang seorang anak laki-laki yang ada didepan saya, perlu beberapa saat bagi saya untuk bisa mengingat namanya, sebelum akhirnya saya duduk didekatnya.
Wawan, namanya. Saya berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali saya berjumpa dengannya, bulan Ramadhan setahun yang lalu, ketika saya dan suami mengantar takjil untuk berbuka puasa ke sebuah langgar didaerah padat penduduk di tengah Kota Tenggarong. Rasanya waktu itu dia masih bocah kecil seperti yang sudah saya kenal, menyapa saya sebentar kemudian menghilang kedalam gang disamping langgar.
Kini Wawan ada didepan saya, duduk diam, tertunduk malu menjawab pertanyaan saya dengan suara pelan. Memakai kemeja kota-kotak warna coklat dan celana bola, rambutnya sekarang dipotong pendek dengan gaya anak anak sekarang, satu dua jerawat kecil tumbuh diwajahnya, Wawan telah beranjak remaja.
Hampir empat tahun yang lalu, ketika Wawan kecil yang setiap jam 2 siang datang ke kantor saya, sambil menenteng tas plastik berisi kue-kue buatan ibunya. Biasanya Wawan akan duduk pada sebuah bangku didepan meja saya, berceloteh riang sambil berusaha mengintip ke layar komputer, kemudian membujuk saya untuk membeli kue-kue yang dijualnya. Sekali dua saya menyuruhnya membaca Surat-Surat Pendek, dia akan dengan senang hati membacakan Al-Fatihah atau Al-Falaq dengan suara nyaring, sebagai gantinya saya akan memborong kue-kuenya.
Wawan kecil penjual kue, selalu ceria dan seorang anak laki-laki yang tangguh menghadapi persoalan ekonomi keluarganya, kini terlihat lebih dewasa dibanding umurnya.
Ketika saya bertanya bagaiman keadaannya sekarang, dia menjawab dengan suara lirih, dia sudah kelas lima dan tidak bisa berjualan kue lagi, ibunya baru saja melahirkan anak ke tiga dengan operasi caesar yang sangat mahal biayanya untuk ditanggung oleh bapaknya yang bekerja sebagai penyapu jalanan.
Pelajaran sekolahnya lancar meskipun buku paket untuk kelas lima belum semua dimiliknya, karena buku waktu kelas empat belum lunas dibayar.
Perasaan haru memenuhi dada, saya berusaha mencari semangat Wawan kecil penjual kue pada mata Wawan yang ada didepan, saya sangsi, saya bisa merasakan kegelisahannya, belitan kesulitan ekonomi keluarga, tuntutan kewajiban disekolah dengan segala keterbatasan sarana, menjadikan Wawan Kecil yang biasanya selalu ceria menjadi pemurung dan sekarang saya melihat Seorang Wawan Remaja yang memandang ketidak pastian kepada masa depan.
Saya sempat berpikir tentang bantuan pelayanan kesehatan untuk masyarakat tidak mampu dan bantuan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), kedua program nasional itu setahu saya telah dijalankan di kabupaten tempat tinggal kami.
Sejak Kabupaten Kutai Kartanegara mencanangkan Program Zona Bebas Pekerja Anak (ZBPA) Tahun 2012, yang telah dikukuhkan melalui Perda No 9 Tahun 2004, pekerja anak seperti Wawan semakin berkurang. Sangat baik untuk satu sisi, tetapi semestinya diimbangi dengan terlaksananya program pemerintah yang lainnya, seperti pembangunan Sumber Daya Manusia melalui peningkatan pendidikan dan dan kesehatan. Pembangunan ekonomi rakyat dengan menggali potensi daerah Kutai Kartanegara yang sangat kaya untuk pengembangan pertanian dan agrikultur. Belum lagi potensi pariwisata, menurut saya jika dikelola dengan baik dan dimanfaatkan sebesar-besarnya dan seadil-adilnya untuk kepentingan rakyat, maka Insya Allah tidak akan ada masyarakat Kutai Kartanegara yang mengalami nasib seperti keluarga Wawan.
Saya jadi merenung, saat ini sedang ramainya calon-calon bupati sedang berlomba merebut simpati masyarakat, semoga mereka tidak hanya berkoar-koar dengan program kerjanya, bukan menjual janji, tidak menawarkan lip service, tetapi benar-benar menginginkan kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Jika tidak, maka pemerintah daerah akan berhadapan dengan banyak Wawan Kecil di Kutai Kartanegara yang risau dengan masa depannya.



kebijakan pemerintah seringkali sektoral, kurang terintegrasi karena kurang koordinasi antar instansi
kok komen saya gak masuk ya? dianggap spam ?
hmmm….cerita ini bikin saya haru bun…
mudah²an calon para pejabat daerah itu tidak lupa dengan janji²nya…jangan hanya peduli masyarakat ketika sedang proses pemilihan, setelah selesai cenderung mencari pengganti biaya yg di keluarkan/balik modal *klasik*.
salam, ^_^
.-= Didien®´s last blog ..Kiat Menghalau Pembobolan Rekening =-.
kasihan ya, masih sekecil itu sudah harus menanggung beban yg ga seharusnya dia tanggung. sbnrnya kesejahteraan dan penghidupan yg layak itu tanggung jawab pemerintah mnrt UUD 45 loh. mungkin memang blm semua bs diperbaiki, namun dengan berkurangnya pekerja anak di kutai kartanegara, ini sudah merupakan perbaikan
nah mantap ini teh,
buat para birokrat pemerintah, pejabat yg hidup dari uang pajak rakyat, tolong jgn lupa, anda babu rakyat. pembantu rakyat, yg sudah banyak beriklan dg uang luar biasa banyak bagi kami, yg sudah kami pilih atas janji2 yg kalian tawarkan.
ayo dong bantu, jangan nunggu terekspos di media dl, baru deh ribut foto sana sini, kasih fasilitas ini itu, usahainlah jgn buat popularitas politis aja. kalian birokrat kan cerdas, dg wawasan, pendidikan, atau moral yg jauh lebih baik. jadi engga perlu diteriakin kan?
.-= cantigi´s last blog ..IBSN: Saya tidak malu belajar banyak hal pada Sinar =-.
kabar baik, lg riwueh sama Bapapsi bdg (soreang) bikin potensi daerah (interaktif multimedia) mabok lin, datanya buaanyyaakkk bgt
.-= cantigi´s last blog ..IBSN: Saya tidak malu belajar banyak hal pada Sinar =-.
duhh jadi ingat tadi malam pas habis ngantar istri ke dokter. kami mampir di pasar untuk beli kaosnya si Kya… pas sedang nawar.. ada seorang anak kecil seusia Habib (anak kami yang ke 3 yang dduduk di TK B)… dengan pakaian lusuh dan tanpa alas kaki, menengadahkan tanganya pada kami… saya memberi isyarat pada istri untuk memberi uang…
sambil membuka tasnya, istri bertanya:
“Lho kok matamu merah, dah ngantuk ya?”
Sang anak menggeleng
“Trus?” tanya istri
“Habis nangis?” saya menimpali
si anak mengangguk
“Rumahnya dimana?” tanya istri
“NGgadang,,!” jawabnya lirih
“Haa NGgadang?” tanya saya… Gadang adalah nama kecamatan di perbatasan kota Malang bagian selatan dan Kabupaten Malang, jaraknya hampir 30 kilo dari tempat kami (Lawang)
“Sendirian?” tanya istri saya
Si anak menggeleng dan berlalu
Hhh,,,,,, saya mengehla napas panjang…duh bgaimana nasib bangsa ini… saya jadi ingat anak2 jalanan yang sempat di teliti teman saya
(foto-foto yang saya tampilkan di blog saya di tulisan Jalan SUnyi adalah foto anak jalanan yang coba di sekolahkan lagi)
ah… beban hidup ternyata yang membuat mereka ke jalanan
dan saya sungguh marah dengan petinggi negeri ini yang hidup bergelimang kemewahan dan tidak peduli dengan rakyatnya
duuhhh maaf bunda… kok saya jadi marah-marah disini… (habis bete ngeliat para pejabat2 itu
.-= hmc´s last blog ..Silka Meja Lipat Trendy =-.
salam sobat
iya benar mba,,
semoga para pejabat daerah selalu mengutamakan kepentingan umum daripada pribadinya.
sesuai dengan janjinya sewaktu pemilihannya…jangan hanya bicara saja.
kirain wawan tetangga sy.. hehehe
yg kuat menindas yg lemah
.-= h-run´s last blog ..Mengedit Gambar Secara Online (Alternatif sotosop) =-.
ada gak ya pemerintah yang mencalonkan dirinya tapi gak make janji? jadi kasihan seperti Wawan, dia harus melepas hormatnya kepada Ibu untuk dapat terus membatu Ibunya, dan menjadikannya manusia mandiri disuatu hari nanti.
kasian sama wawan, padahal anak-anak laki-laki itu kelak memikul beban keluarga hingga dewasa
.-= Mamah Aline´s last blog ..Lidah tak Bertulang =-.
setiap melihat anak jalanan, aku membayangkan seandainya itu adalah anak-anakku…duuuh sedih rasa hatiku mbak! semoga segera mendapat penanganan yang efektif dari pemerintah ya mbak….
.-= Desri Susilawani´s last blog ..Pendidikan Wirausaha Mandiri Dini =-.
kalo dibaca calon bupati harusnya biaya pendidikanya ditanggung nih
sebenarnya masalah apapun di Indonesia ini bisa bener kalau setiap pejabat yang kepilih menjalankan janji kampanye dengan konsisten. KArena gak ada tuh program yang jelek ketika kampanye. KAlau ini semua mau dijalankan pastinya beres. Sayangnya…ndak begitu faktanya.
.-= bukan detikcom´s last blog ..Blog saya ultah pertama! =-.
Kapan ya negara kita diurus oleh seorang pemimpin seperti Khalifah Umar bin Khattab atau Khalifah Umar bin Abdul-Aziz.
Semoga Allah SWT membimbing Pemimpin kita ke jalan yang benar. Amin…
.-= noto´s last blog ..Yes Akhirnya Dapat Juga Tiketnya =-.
indonesia… indonesia…
.-= faruq´s last blog ..Syukur dan Mengeluh =-.
semoga bangsa ini cepet maju dalam merawat rakyat2nya……. ayo semangat grak
untung ceritanya pendek bun, klo ga saya ga kan tega membacanya lebih jauh..
.-= caride´s last blog ..Membuat Blog dengan Versi Mobile =-.
disini jga banyak wawan2 yang lain, sayangnya dana BOS seperti itu malah diambil alih oleh sekolah bukan u/membantu siswa…mungkin karna namanya Bantuan Operasional Sekolah kali ya bukan Bantuan Operasional Siswa
semoga wawan2 kecil bisa terus tersenyum
.-= D-gadget´s last blog ..Omnia II Vs HTC Hero Bertarung di Indonesia =-.
wah bupati ketropak bos maunya hehehehe
Saya setuju dengan sobat bukan detik com.. program2 yang sudah ditentukan pmetintah itu bagus2 lho.. hanya pelaksanaanya saja yg kadang gak sesuai dg juklak/juknis yg telah dibuat.
Ada banyak wawan2 lain yg masih memerlukan perhatian bersama … jutaan bahkan milyaran rupiah telag di keluarkan pemerintah untk utk program pengentasan ini.. tapi hasilnya msh kurang memuaskan.. dimana letak kesalahannya ??
.-= Link Tea´s last blog ..Tag Enjoy About Me =-.
bagi wawan2 kecil ada tuh 20 % dana pendidikan ???? .. ah mending gak koment deh.. hehe
.-= Saung web´s last blog ..Tag Enjoy About Me =-.
Ya, semoga bukan hanya berlomba menggusur Wawan-wawan. Namun juga memberikan solusi untuk memberikan saluran kepada mereka untuk tetap menjadi baik dan memiliki masa depan baik
Salam bentoelisan
Mas Ben
sekolah gratis tapi sekolah jualan buku :f*ck:
buku tiap tahun ganti :f*ck:
ngaco…
para calon itu lebih suka iklan di tivi daripada membantu masyarakat
menurut saya, semua persoalan ekonomi masyarakat marginal tidak akan selesai hanya dengan menudingkan kesalahan pada satu pihak atau 2 pihak. misalnya dalam hal ini oknum pemerintah. Yang tersulit bagi kita adalah memberikan contoh tauladan yang baik bagi masyarakat. sebab saat ini kita tidak menuntut masing2 diri kita untuk memberikan contoh yang baik.
setiap tudingan tidak menyelesaikan persoalan. Tapi contoh yang baik bisa menggugah ratusan atau bahkan ribuan orang.
Kasus wawan ini sebenarnya mudah menyelesaikannnya. Yang berat adalah memulainya. karena hati kita belum tergerak untuk memberikan uluran tangan. Coba bayangkan jika 100 warga memberikan dananya sebesar 20.000/orang. wah sudah terkumpul 2.000.000. bisa meringankan beban si wawan kecil penjual kue itu..
apalagi jika 1000 orang siap memberikan bantuan. waw… bisa2 si wawan kecil akan jadi juragan kue… hehehe. sepertinya kejadian koint pritta bisa jadi contoh yang baik, ya kan ?
siapa siap jadi pelopor ? …
maaf ikut nimbrung dan mampir nih..
salam kenal semoga selalu penuh dengan Rahmat dan Hidayah…