Aku ada bersama mu waktu itu. Masih ingatkah kau?

Saat matahari mengintip di ufuk timur dan cahaya jingga menyapu wajah kita. Kita larut dalam indahnya. Setelah menghabiskan malam dikaki Bukit Biru, bernyanyi bersama dan memandangi cahaya api unggun hingga  akhirnya kita terlelap dalam pelukan embun pertama. Kita tidak pernah merasakan kesedihan saat itu.

Aku ada bersamamu waktu itu. Masih ingatkah kau?

Ketika hari demi hari dijalani, diantara perihnya perut yang kelaparan, dibawah terik tengah hari, mengejar angkutan umum dan pulang ke rumah kost kita. Tidak ada makan siang ini, karena jatah bulanan belum lagi tiba dan kita masih bisa tertawa dengan riangnya.

Aku ada bersamamu waktu itu. Masih ingatkah kau?

Ketika kesedihan menguasai hatimu. Dunia ini telah hancur menurutmu. Aku tak berkata, diam dalam galau menatapmu. Menangis kita berdua, berangkulan,  mencoba mengurai duka.

Aku ada bersamamu waktu itu. Masih ingatkah kau?

Saat kita bergelut dengan lembar-lembar tugas, mengerutu panjang pendek karena menurutmu semua itu berlebihan. Berharap nilai A akan tertulis indah diatasnya. Kita tidak pernah berhenti,mengukur, memotong, menggali dan menutupnya kembali, walau menurut mu bau badan kita hampir sama dengan bau got di sepanjang  jalan sutomo, kita tidak pernah berhenti.

Aku ada bersamamu waktu itu. Masih ingatkah kau?

Ketika kau berkata “aku mencintaimu” dan kau tahu ini gila, namun kau tidak bisa menolak rasa yang menggumpal di otakmu. Aku gagu, termangu, membisu, memandangmu takjub tak bisa percaya, bukankah kamu terlalu pintar untuk merasakan hal bodoh seperti itu.

Aku ada bersamamu waktu itu. Masih ingatkah kau?

Kemarahan ku memuncak, panas membakar kepalaku, akal sehatku terbang entah kemana. Aku ingin meledakkan seluruh jagat raya tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa memejamkan mata, mengepalkan seluruh jemariku agar seluruh emosiku mengalir kesana.

Aku ada bersamamu waktu itu. Masih ingatkah kau?

Mengayuh sepeda mini kita berkeliling kota, kau ada didepanku, tertawa-tawa mengejekku, aku paling lambat sedunia, aku mengejarmu sesaat kemudian roda sepedaku oleng dan terjatuh bersama tubuhku, tepat sehasta dari roda depan sebuah mobil pick up pembawa sayur. Aku nyaris mati hari itu.

Aku ada bersamamu waktu itu. Masih ingatkah kau?

Saat kupandang wajahmu yang terlelap tenang, mengelus alis  dan pipimu. Lentik bulu matamu memaksaku untuk jatuh cinta setiap hari padamu. Setiap kali kau bacakan doa-doa dengan cara yang lucu dan mengeja setiap hurup yang kau lihat,  sungguh engkau malaikat kecilku, dan  aku tahu engkaulah alasan kenapa aku dilahirkan.

Engkau ada bersamaku setiap waktu. Aku tahu Engkau akan selalu ingat.

Sekalipun aku berkata dengan kasar tinggalkanlah aku karena aku ingin sendiri. Engkau selalu ada, memberikan seluruh hembus napasku. Disetiap bahagiaku, disetiap dukaku, keberhasilanku, kegagalanku, Engkau selalu disitu. Mengiringi setiap langkahku dengan cinta-Mu.