Lain Padang Lain Belalang Lain Lubuk Lain Ikannya. Ini adalah salah satu peribahasa yang artinya masing-masing tempat/daerah punya adat istiadat dan budayanya masing-masing.
Di Kalimantan Timur ada mitos yang disebut KEPUHUNAN atau dalam dialek Suku Banjar (Kalimantan Selatan) disebut KEPOHONAN.
Kepuhunan ini artinya mendapat celaka atau musibah apabila tidak memakan makanan yang ditawarkan, atau apabila terlupa atau tidak sempat makan sesuatu yang sudah diinginkan atau sudah disiapkan.
Didalam masyarakat Kutai dan Banjar mitos Kepuhunan atau Kepohonan mempercayai apabila ditawarkan makanan/minuman maka pihak yang menerima harus memakan/meminumnya.
Apabila memang tidak bisa makan maka cukuplah mengambil sedikit (secuil) atau paling tidak menyentuh makanan/tempat dengan jari kemudian menyentuhkannya pada bibir atau tenggorokan. Memakan secuil atau menyentuh makanan ini disebut NYANTAP.
Jika saat menerima tawaran makan dan minum kemudian tidak memakan atau tidak NYANTAP maka diyakini orang tersebut akan mendapatkan kecelakaan atau musibah, terkadang juga dihubungkan dengan gangguan mahluk halus.
Ada beberapa makanan yang sangat pantang untuk ditolak diantaranya adalah Makanan yang diolah dari Ketan dan Nasi Kuning, tetapi secara umum semua makanan/minuman yang ditawarkan kemudian ditolak atau terlupa untuk dimakan bisa menyebabkan Kepuhunan.
Sebagai umat beragama yang mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi kepada manusia adalah atas kehendak Allah SWT terlebih lagi di zaman modern seperti sekarang, tentu Mitos KEPUHUNAN ini sulit diterima secara rasional.
Tanpa melepaskan diri dari keyakinan kepada Allah SWT maka sebagai orang yang berasal dari tanah Kutai, saya menilai mitos ini sebagai nilai-nilai luhur adat budaya masyarakat Kutai dan Banjar.
KEPUHUNAN memperlihatkan hikmah yaitu adanya nilai sosial, kesetiakawanan, sikap ramah dan tata krama kepada sesama manusia, penghargaan terhadap makanan/minuman yang merupakan hasil usaha /jerih payah manusia.
KEPUHUNAN juga mewakili nilai luhur yang mengajarkan tentang keselarasan antar sesama manusia dan antara manusia dengan alam. Tentu saja nilai ini patut untuk dipertahankan dan dilestarikan agar tidak tergerus oleh pergeseran nilai yang terjadi dimasyakarat.
Apakah didaerah tempat asal anda juga ada mitos seperti ini?






ya terkadang adat itu sangat lekat sekali mbak walau sekarang jaman udah modern seperti ini..kalau di saya alhamdulillah berbagai adat yang menurut saya terlalu irasional udah banyak ditinggalkan. g tau juga sih kalau yang di daerah pedalaman mah..kayanya masih kuat.
tapi walaupun kuatnya adat. semuanya harus tunduk apabila bertentangan dengan syari’at. nice posting mbak..saya PERTAMAX yah haha
Islam tidak menafikkan adanya sebuah adat atau tradisi di suatu daerah. namun dalam hal ini, Islam memberikan batasan dalam pelaksanaannya. dalam Islam adat biasa diknal dgn istlah al-’urf.
klo aq sih manut2 aj dgn adat atau tradisi, dlm catatan gak bertentangan dgn syari’at…
mkasih mbak postnya, aq izin copy-paste bwt referensi… ^.^
Terima kasih Pak Ikhsan
Atas tambahannya mengenai Al-’urf
tentang tindakan NYANTAP, saya punya contoh yang sangat bagus dari Paman saya, jika beliau menolak untuk makan sesuatu yang ditawarkan biasanya beliau akan menolak dengan halus kemudian berkata ” Bismillahirrohmanirrohim Terima Kasih saya sudah makan”
Silahkan di copas, semoga bermanfaat
Wah, postingannya bagus sekali. Mengangkat tradisi masyarakat kalimantan (khususnya kaltim dan kalsel) yang saya rasa masih hidup sampai sekarang. Dan hal inipun masih tetap berlaku di keluarga saya lho. Setiap mau jalan / bepergian, trus pada waktu itu nasi telah tersedia, disuruh nyantap barang secuil
di setiap tempat pasti ada mitos seperti itu… namun perlu untuk diluruskan agar tercapai keselamatn yang hakiki
tapi klo yang disuguhkan seperti yang di poto mah
sayang tuh buat dilewatkan
seiring waktu kita harus memberi pencerahan dan
pemahaman untuk melepasnya dari ‘mistik’
tanpa menghilangkan nilai kekeluargaan
kebersamaan yang ada…
kalau kebiasaan di tempat kami, tamu harus makan besar dulu baru boleh pulang
setiap tempat pasti punya adat yang berbeda….
mitos ya bun?
saya jadi merasa serem sendiri….hehehe
pakabar bunda?
salam, ^_^
Kayaknya kenal dengan yg komen diatas hehe:-D
Gmn kbrnya ibu lyna smg sehat slalu
Salam dr malang
ditempat saya juga ada pamali sejenis ini bu ‘ eh iya sudah banyak yang keracunan bu , karena tidak sengaja tertelan daunnya
kalau tata krama sih ada, tapi tidak menjadi adat…
lain ladang alin belalang..
di tempat saya tidak ada mitos seperti ini…
Kalau ditembat saya namanya “Kempunan” atau “Kapahunan”, sebenarnya bukan berkaitan dengan segala macam mitos, kata-kata itu digunakan oleh kaum tua untuk “setengah memaksa” agar orang yang diberi makanan tidak menolak.
Sangat tidak etis menolak pemberian seseorang yang iklas, agar yang diberi mau menerima, maka keluarlah kata “ancaman kapuhunan” jika menolak.
Maaf mbak hanya pendapat pribadi
makasih nfonya bos
siapa tau tugas kesana
sulit yaw
kalau bicara seperti itu
mungkin karena adat masih kental banget
benar-benar lain ladang lain belalang,lain tempat lain tata caranya
Ditempat lia..
paling pantang menolak ajakan makan …
padahal kan niatnya baik… tapi ya begitulah
walaupun cuma mitos gak ada salahnya sih mengikuti selagi gak melanggar nilai2 Agam… makasih infonya mas… ^_^
makanannya membuat lapar
Upsss mbak maaf aq kok panggil mas ya.. heheheh
abisnya tadi tak pikirin blog ekspresihati
Minta maaf mbak Lyna ^_^
Nah tu.
Saya yg sebagai pendatang hidup dan cari penghidupan di Bumi Kutai juga pernah mengalami yg namanya kepuhunan.
Terus, apa yg dilakukan jika seseorang sudah kepuhunan?
Apa ada obat atau sejenisnya untuk melepaskan diri dari kepuhunan tersebut?
Natur nuwun….
lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Yang penting kan, bhinekka tunggal ika ….
wah kenapa ditempat blue tidak ada y……
namun blue menyukai acara acara terseut
di tempatku dinamai KEPUNAN atau KEMPUNAN
Setuju ada hikmah sosialnya. Walaupun… kepercayaan2 akan adanya musibah seperti itu tidak perlu dipertahankan rasanya
lain ladang lain belalang…
kayanya cocok tuh kata” itu….
salam kenal….
sama mbak, di jambi juga begitu tapi namanya “Kepunan” percaya ngak percaya sih… lebih baik mencegah musibah daripada nyesel belakangan
Di tiap daerah kayaxnya ada, walau beberapa sudah mulai ditinggalkan.
terima kasih…
kepuhunan gitu loh…
Cape banget deh dengar komentar orang2 kalo penyebab suatu kecelakaan itu karena kepuhunan. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kita…
Kadang masyarakat kita lebih cenderung “takut terjadi apa2 bila tidak memakan makanan tersebut”. Khawatirnya diri jadi tergantung pada makanan itu, bukannya pada Yang Maha Berkehendak.
Wallahua’lam.
berkunjung lagi kesini hanya ingin sekedar menyapa bunda dan keluarga…
apakabar bunda dan keluarga disana?
anakmu disini kangen…
salam, ^_^
saya baru tahu tentang kepunuhan, sebelumnya bahkan saya tidak pernag mendengar kata itu
nice post, salam kenal ya
waaaww…
klo di tempat saya dah banyak kegiatan adat yg ditinggalkan… hehehe
santap santap…..
ya itu mitos.
omong-omong, itu yang dari ketan, lemang ya?
[...] Beranda Hati: Kepuhunan [...]