Buta Mata Tak Berarti Buta Hati
Saturday, November 15th, 2008
Seseorang yang memiliki salah satu panca indra yang tidak berfungsi, bukan berarti orang itu kehilangan kesempatan untuk hidup sebagaimana orang lain yang sempurna panca indranya.
Banyak contoh keberhasilan saudara-saudara kita yang notabene adalah peyandang cacat tetapi mampu berprestasi dan berhasil dalam kehidupannya, setidaknya mereka mampu berperan dalam keluarga dan bukannya menjadi beban karena kekurangannya.
Sebuah contoh yang ingin saya bagi disini adalah sebuah bukti kecil bahwa ketidak sempurnaan panca indra bukanlah sebuah halangan untuk berkarya.
Dibelakang Museum Mulawarman, tepatnya dibelakang Komplek Pemakaman Keluarga Raja di Kerajaan Kutai, yang merupakan salah satu tempat tujuan wisata di Kota Tenggarong, terdapat banyak warung-warung penjual souvenir dan warung penjual makanan yang kerap didatangi oleh pengunjung Museum Mulawarman. Di salah satu sudut bangunan warung pertama, dibawah rimbun daun pohon beringin, Bapak Tua penyandang Tuna Netra ini duduk diatas bangku kayu berwarna hijau yang dibuat khusus untuknya. Kedua tangannya mendekap sebuah Gambus, alat musik petik, yang biasanya digunakan dalam kesenian musik, budaya melayu.
Pengunjung museum yang datang untuk membeli souvenir biasanya akan melintas didepannya, dari jauh Pak Tua ini akan mendengar suara langkah pengunjung yang mendekat. Disaat itulah jari jemarinya akan segera memainkan irama musik Tingkilan, musik khas Kutai. Kaki kanannya akan bergerak menginjak sebuah papan kecil yang ujungnya berbentuk stik drum, stik inilah yang akan memukul gendang kecil didepannya, sehingga suara petikan gambus semakin sempurna ditingkahi suara gendang. Tak hanya itu saja, Pak Tua ini juga sekaligus menyanyikan lagu-lagu Tingkilan yang biasanya berbentuk pantun-pantun.
Jika kebetulan tidak ada pengunjung yang melintas maka dia akan membakar rokoknya untuk beristirahat sejenak, dia tak pernah membuang puntung dan abu rokoknya ke tanah sekitarnya, karena ada sebuah asbak kaca bening disebelah kirinya, yang tidak pernah meleset setiap kali tangannya menjentikkan abu rokoknya. Sebuah botol air kemasan yang tampaknya telah kusam karena selalu diisi ulang dengan air putih dan sebotol air teh dingin sudah cukup untuk bekalnya hari ini. Ada sebuah Anjat (tas yang dibuat dari anyaman rotan, khas Kalimantan Timur) tempat pengunjung yang ingin memberikan uang untuk Pak Tua. Ketika saya memasukkan selembar uang kertas kedalam Anjat, saya sempat melirik, puluhan lembar uang pecahan seribu rupiah dan beberapa lembar pecahan 10 ribu dan 20 ribu telah didapatkannya hari ini.
Bapak tua ini mungkin tidak pernah berpikir bahwa keberadaannya disana dengan nyanyian dan petikan gambusnya adalah sebuah asset budaya yang bisa saja menjadi sebab wisatawan akan kembali ke Tenggarong, atau mungkin dia tidak pernah berpikir bahwa dia telah melestarikan musik Tingkilan sebagai salah satu kebudayaan Kutai. Yang dia mengerti adalah bagaimana hari ini bisa mendapatkan sedikit uang untuk makan esok hari.
Sebuah pelajaran berharga untuk kita yang dikaruniai dengan kesempurnaan panca indra.
Sudah semestinya kita mensyukuri anugerah Allah Swt, yang tak terhingga kepada kita, manfaatkan sebenar-benarnya untuk kebaikan. Seperti yang dilakukan oleh Pak Tua dengan gambusnya. Buta mata tak berarti buta hati pula.
>>posting ini saya persembahkan untuk Ega : Betapa Ega sudah dianugerahi semua kebaikan oleh Allah Swt, apapun yang Ega lakukan, Ega adalah permata hati kami, harapan kami dunia akhirat. Semua yang kami lakukan semata-mata untuk kehidupan Ega yang lebih baik nantinya

