Hari ini mestinya jadi hari bersejarah bagi Kalimantan Timur, setelah sejak beberapa bulan yang lalu proses penentuan calon gubernur, kampanye dan hari pemilihan, hari ini.
Pulang dari TPS, Ega menyambut saya dengan pertanyaan…tadi ke TPS ya? tadi yang dicoblos siapa? Saya tertawa dan menjawab sekenanya…rahasia. Seketika Ega protes..kok rahasia? Masak begitu aja rahasia? Sekali lagi saya hanya bisa menanggapi sikap protes Ega dengan tertawa. Sampai akhirnya Ega, diam dan melupakan pertanyaannya.
Sesungguhnya pertanyaan anak saya membuat saya merenung dan berpikir, Ega memang benar, kenapa harus dirahasiakan, apakah karena saya sendiri ragu atas calon gubernur yang saya pilih, ketika berada di bilik suara. Atau karena memang tidak 100 % yakin dengan apa yang saya pilih?
Berangkat ke TPS dengan keyakinan bahwa saya menjalankan hak sebagai warga Kalimantan Timur dan memberikan suara dalam pemilihan gubernur berarti mempunyai harapan untuk masa depan Kaltim sekaligus juga menghargai diri sendiri.
Menentukan pilihan siapa yang harus dicoblos, tentu saja bukan hal yang mudah, terutama bagi masyarakat umum yang bukan orang politik. Kita pasti tidak ingin orang yang kita pilih pada saatnya nanti ternyata tidak konsekuen dengan janji-janji yang diucapkan disaat kampanye. Setidaknya perasaan takut itu adalah bentuk tanggung jawab atas apa yang menjadi pilihan.
Membaca ulasan-ulasan para pengamat dikoran tentang para calon, hanya membuat bingung, program-program kerja yang disodorkan oleh para calon semuanya hampir sama, jika ada perbedaan, itu hanya karena kemasannya yang berbeda, cara menyampaikannya yang berbeda, strategi pemasarannya yang berbeda bahkan program kerja terasa sangat muluk sehingga sulit untuk dicapai.
Tetapi hari untuk memilih telah tiba, pilihan harus ditetapkan dan suara harus diberikan. Mencoba berpikir positip, semua calon mempunyai niat yang mulia, program kerja meskipun terlalu muluk, tetapi bukan tidak mungkin untuk bisa diwujudkan, semuanya dituntut kerja keras dan kerja sama semua pihak, kemampuan memimpin juga bisa dinilai dari tingkat keberhasilan sebelumnya karena tiga dari empat calon yang ada mempunyai pengalaman sebagai bupati/walikota. Partai politik yang mengusung sang calon juga boleh untuk jadi acuan.
Dengan membaca Bismillah, harapannya tentu saja adalah siapapun orangnya, semoga yang terpilih nanti bisa mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. Dan mampu membawa Kaltim menjadi lebih baik dan juga mampu mensejahterakan masyarakatnya. Pokoknya dari pilgub menjadi pilgud…(feel good)
Kembali lagi kepada pertanyaan Ega, tadi mencoblos siapa, jawabannya tentu saja…….itu rahasia.