Jakarta, 09 September 2009
Posting kali ini merupakan posting ulang sebuah tulisan yang pernah saya release pada tanggal 13 September 2008 yang lalu. Tulisan yang saya dedikasikan untuk sahabat saya Asrul Fahmiansyah, yang mengajarkan saya sebuah makna hidup, pengabdian, dedikasi dan persahabatan.
Saat ini saya berada sangat jauh dari rumah untuk menjalankan amanah tugas dari tempat bekerja dan sebuah target besar semestinya harus saya bawa saat kembali nanti. Memperjuangkan sebuah pilot project pengembangan teknologi, yang akan akan bermanfaat untuk kepentingan masyarakat. Bersaing program dengan 17 Kabupaten diseluruh Indonesia, membuat saya berpikir, ini akan menjadi sangat berat dan saya sangat memerlukan bantuan The Magical Hand of Allah SWT saat ini.
Saat pikiran dan tubuh terasa lelah serta kerinduan pada keluarga memuncak. Hati merenung dalam hening, pemikiran yang berakhir pada sebuah kesadaran bahwa semua harus dilandasi pada keikhlasan hati, dengan demikian pada bagian yang terberat pun akan terasa ringan.
Berharganya seorang Asrul Fahmiansyah bagi saya sebagai seorang Sejawat, Sahabat dan akhirnya menjadi sebuah Monumen Dedikasi yang teramat penting bagi saya setelah kepergiannya, ketika pertengahan Ramadhan, 2 tahun yang lalu. Sehingga setiap kali saya membaca ulang posting ini selalu air mata jatuh kembali, menyadari bahwa kematian setiap saat akan datang kepada kita tanpa pernah permisi. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahannya, memberikannya tempat yang lapang di alam sana, menerangi kuburnya dan menerima semua amal kebajikannya.
Dari Ramadhan 1428 H ke Ramadhan 1430 H, tidak terasa dua tahun sudah berlalu sejak kepergianmu, Sahabatku.
Hari ini kembali aku teringat padamu, pedih tiba-tiba menyesak didadaku. Menyisakan air bening di pelupuk mataku. Sahabat… Aku tidak akan pernah lupakan, hari-hari yang pernah kita lewati bersama
Ingatkah engkau, ketika pagi buta bersamaku membelah Mahakam yang masih berselimut embun yang beku. Menenteng ransel butut berisi peralatan kita, menyusuri jembatan terpanjang di Muara Muntai. Tak pernah kulihat letih diwajahmu, selalu penuh energi…selalu bangkitkan semangatku….Ini kerja kita…. Tak akan sia-sia… orang-orang menunggu mengalirnya air untuk hidup mereka.
Aku tidak akan pernah lupa, jari-jari tanganmu yang tak pernah terlihat bersih, selalu hitam dengan sisa olie dan dipenuhi luka. Aku tahu betapa kau cintai semua itu, dalam tidurpun ku yakin mimpimu tentang pompa, panel dan genset kita.
Aku masih ingat, betapa gusarnya sikapmu, karena aku selalu lupa mengembalikan obeng ketempatnya semula, ketika lembaran mika itu tak pernah rapi kubuat dan terkadang ujung-ujung kabel itu tidak terpasang sempurna, aku tidak terlalu kuat, katamu.
Di bengkel kita yang lusuh, yang selalu hangat karena candamu yang terkadang keterlaluan. Dan aku senang, setiap kali kau katakan, biar kamu yang buat kopi dan aku cuci gelasnya.
Ada pertanyaanmu yang tidak pernah aku jawab hingga saat ini, Sahabatku. “Kenapa kamu tidak pernah bisa diam dan tenang? Saat duduk pun kakimu terus kau goyangkan? Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku tidak pernah menyadari bahwa aku begitu. Sepuluh tahun yang lalu, aku merasa terlalu kekanakkan untuk menyadarinya.
Aku masih ingat ketika malam telah jatuh, pulang dari Tanjung Isuy menuju Jantur, setelah selesaikan tugas kita..akhirnya genset itu kembali bekerja… Kita terjebak dalam lautan rumput-rumput danau, dalam sampan yang kau kayuh, kau berteriak,… tundukkan badanmu! dan aku tahu duri-duri semak melukai tubuhmu.
Sahabatku… Aku akan selalu ingat, ketika badai besar menghantam kehidupanku, keras jiwamu membangkitkan asaku…” Ini bukan akhir dunia, Ini belum kiamat, Jangan Cengeng! katamu waktu itu. Tetapi suatu ketika, lembut hatimu, menyentuh jiwaku…. “Menangislah, menangislah jika itu bisa melapangkan sesak didadamu, tidakkah kau penat karena selalu berusaha tegar?…Kamu ada diantara orang-orang yang mengiringi langkahku melewati badai itu.
Sahabatku… Lama kita terpisah ketika tugas memberi pilihan yang lain untukku tetapi aku akan selalu ingat, pertemuan terakhirku denganmu, beberapa hari sebelum kepergianmu untuk selamanya, ketika magrib menjelang, saat buka puasa bersama, kau sodorkan selang air itu dan berkata…” ambillah wudhu, aku akan pegangkan ini, agar tak basah ujung bajumu….” dan sempat kau katakan sebelumnya, tentang kerinduanmu untuk kembali bersujud di depan Baitullah.
Sahabatku… Aku tahu, Kau tidak akan pernah suka jika aku menangis. Tetapi aku tidak perduli, karena saat ini aku sadar, betapa berartinya persahabatan kita. Beristirahatlah Sahabatku, dalam tidur panjangmu. Bermimpilah tentang Kota Mekkah, tentang Baitullah, tentang Hajar Aswad, tentang Madinah yang cantik, tentang Raudah, tentang semua kecintaanmu.
Doaku selalu menyertaimu………