Kembali dari Kegelapan

25

Posted by Lyna Riyanto | Posted in My Life | Posted on 30-12-2009

Setelah lama istirahat total dari segala aktivitas termasuk blogwalking,  Alhamdulillah akhirnya waktu istirahat itu berakhir dan menyempatkan diri untuk jalan-jalan keblog teman tanpa berniat meninggalkan komentar agar mata tidak terlalu lelah.

Malam kemarin saya sempat datang ke blog Teh Desri, mengharu biru hati, air mata saya sempat mengembang basah dipelupuk mata. Sebuah posting yang ditujukan untuk Beranda Hati, “Doa untuk Sahabat”. Begitu banyak yang mendoakan untuk kesembuhan saya dan saya yakin diantara beberapa hal maka doa sahabat  itu telah dikabulkan oleh Allah SWT , yang membuat saya segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti semula. Terima kasih Teh Desri dan semua sahabat, sungguh saya tidak bisa membalasnya, semoga Allah SWT membalasnya dengan limpahan kasih sayang dan kebaikan dunia akhirat.

Pada hari Kamis 10 Desember 2009 adalah kedua kalinya saya berhadapan dengan pisau operasi.  Yang pertama kali sekitar 9 tahun yang lalu ketika Appendix (usus buntu) harus dipotong.  Walaupun prosesnya sangat berbeda dan pisau operasi yang digunakan dokternya berbeda tetapi tetap saja saya merasakan dua macam rasa. Yang pertama adalah rasa takut dan kedua rasa sakit. Read the rest of this entry »

Sholu’alan Nabi…Sholu’alan Nabi

29

Posted by | Posted in My Life, Tantangan Noto | Posted on 11-10-2009

Pemenang 4-th IBSN Blog Award telah ditetapkan, yaitu Mas Hendra Fahrul Rozy, pada blog Sebuah Perenungan, dengan tulisan berjudul, IBSN:Mencintai Nabi Muhammad. Untuk dua pemenang lain yang terpilih untuk katagori Favorite Article dan Lucky Blogger bisa dilihat langsung disini.

Membaca posting ini sangat menyentuh hati saya, terasa basah seluruh jiwa dengan himbauan yang menyejukkan. Apalagi pic yang dipasang pada posting ini adalah Masjid Rasulullah, Masjidil Nabawi di Madinah Al Munawaroh.

Tulisan yang mengingkatkan kita tentang Yang Mulia Baginda Rasullulah Salallahu’alaihiwassalaam, sebagai Manusia Sempurna yang seharusnya menjadi contoh tauladan dan idola yang dikagumi, dicintai dan dirindukan dalam kehidupan kita. Bentuk rasa kagum dan kecintaan kepada Rasulullah yang paling mudah kita lakukan adalah dengan menyampaikan Sholawat dan Salam kepada Rasulullah Salallahu’alaihiwassalaam. Read the rest of this entry »

Selamat Idul Fitri

23

Posted by | Posted in My Life | Posted on 16-09-2009

Hal yg indah adalah ketika kita bisa melihat orang yang kita sayangi tersenyum, namun yang terindah dari itu adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya.

Ini kalimat yang dituliskan oleh Genial pada kolom komentar di posting saya sebelumnya. Saya menyukainya. Kenapa?? Entahlah…tapi saya sangat menyukainya. Saya menyukai sensasi yang saya rasakan setelah membacanya. Seperti berada di alam terbuka saat subuh, menghirup napas dalam dan panjang, kemudian merasakan udara sejuk mengalir pelan memenuhi rongga dada saya.
Read the rest of this entry »

Repost : Dalam kenangan Sahabatku Asrul Fahmiansyah

27

Posted by | Posted in My Life | Posted on 09-09-2009

Jakarta, 09 September 2009

Posting kali ini merupakan posting ulang sebuah tulisan yang pernah saya release pada tanggal 13 September 2008 yang lalu. Tulisan yang saya dedikasikan untuk sahabat saya Asrul Fahmiansyah, yang mengajarkan saya sebuah makna hidup, pengabdian, dedikasi dan persahabatan.

Saat ini saya berada sangat jauh dari rumah untuk menjalankan amanah tugas dari tempat bekerja dan sebuah target besar semestinya harus saya bawa saat kembali nanti. Memperjuangkan sebuah pilot project pengembangan teknologi, yang akan akan bermanfaat untuk kepentingan masyarakat. Bersaing program dengan 17 Kabupaten diseluruh Indonesia, membuat saya berpikir, ini akan menjadi sangat berat dan saya sangat memerlukan bantuan The Magical Hand of Allah SWT saat ini.

Saat pikiran dan tubuh terasa lelah serta kerinduan pada keluarga memuncak. Hati merenung dalam hening, pemikiran yang berakhir pada sebuah kesadaran bahwa semua harus dilandasi pada keikhlasan hati, dengan demikian pada bagian yang terberat pun akan terasa ringan.

Berharganya seorang Asrul Fahmiansyah bagi saya sebagai seorang Sejawat, Sahabat dan akhirnya menjadi sebuah Monumen Dedikasi yang teramat penting bagi saya setelah kepergiannya, ketika pertengahan Ramadhan, 2 tahun yang lalu. Sehingga setiap kali saya membaca ulang posting ini selalu air mata jatuh kembali, menyadari bahwa kematian setiap saat akan datang kepada kita tanpa pernah permisi. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahannya, memberikannya tempat yang lapang di alam sana, menerangi kuburnya dan menerima semua amal kebajikannya.

Dari Ramadhan 1428 H ke Ramadhan 1430 H, tidak terasa dua tahun sudah berlalu sejak kepergianmu, Sahabatku.

Hari ini kembali aku teringat padamu, pedih tiba-tiba menyesak didadaku. Menyisakan air bening di pelupuk mataku. Sahabat… Aku tidak akan pernah lupakan, hari-hari yang pernah kita lewati bersama

Ingatkah engkau, ketika pagi buta bersamaku membelah Mahakam yang masih berselimut embun yang beku. Menenteng ransel butut berisi peralatan kita, menyusuri jembatan terpanjang di Muara Muntai. Tak pernah kulihat letih diwajahmu, selalu penuh energi…selalu bangkitkan semangatku….Ini kerja kita…. Tak akan sia-sia… orang-orang menunggu mengalirnya air untuk hidup mereka.

Aku tidak akan pernah lupa, jari-jari tanganmu yang tak pernah terlihat bersih, selalu hitam dengan sisa olie dan dipenuhi luka. Aku tahu betapa kau cintai semua itu, dalam tidurpun ku yakin mimpimu tentang pompa, panel dan genset kita.

Aku masih ingat, betapa gusarnya sikapmu, karena aku selalu lupa mengembalikan obeng ketempatnya semula, ketika lembaran mika itu tak pernah rapi kubuat dan terkadang ujung-ujung kabel itu tidak terpasang sempurna, aku tidak terlalu kuat, katamu.

Di bengkel kita yang lusuh, yang selalu hangat karena candamu yang terkadang keterlaluan. Dan aku senang, setiap kali kau katakan, biar kamu yang buat kopi dan aku cuci gelasnya.

Ada pertanyaanmu yang tidak pernah aku jawab hingga saat ini, Sahabatku. “Kenapa kamu tidak pernah bisa diam dan tenang? Saat duduk pun kakimu terus kau goyangkan? Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku tidak pernah menyadari bahwa aku begitu. Sepuluh tahun yang lalu, aku merasa terlalu kekanakkan untuk menyadarinya.

Aku masih ingat ketika malam telah jatuh, pulang dari Tanjung Isuy menuju Jantur, setelah selesaikan tugas kita..akhirnya genset itu kembali bekerja… Kita terjebak dalam lautan rumput-rumput danau, dalam sampan yang kau kayuh, kau berteriak,… tundukkan badanmu! dan aku tahu duri-duri semak melukai tubuhmu.

Sahabatku… Aku akan selalu ingat, ketika badai besar menghantam kehidupanku, keras jiwamu membangkitkan asaku…” Ini bukan akhir dunia, Ini belum kiamat, Jangan Cengeng! katamu waktu itu. Tetapi suatu ketika, lembut hatimu, menyentuh jiwaku…. “Menangislah, menangislah jika itu bisa melapangkan sesak didadamu, tidakkah kau penat karena selalu berusaha tegar?…Kamu ada diantara orang-orang yang mengiringi langkahku melewati badai itu.

Sahabatku… Lama kita terpisah ketika tugas memberi pilihan yang lain untukku tetapi aku akan selalu ingat, pertemuan terakhirku denganmu, beberapa hari sebelum kepergianmu untuk selamanya, ketika magrib menjelang, saat buka puasa bersama, kau sodorkan selang air itu dan berkata…” ambillah wudhu, aku akan pegangkan ini, agar tak basah ujung bajumu….” dan sempat kau katakan sebelumnya, tentang kerinduanmu untuk kembali bersujud di depan Baitullah.

Sahabatku… Aku tahu, Kau tidak akan pernah suka jika aku menangis. Tetapi aku tidak perduli, karena saat ini aku sadar, betapa berartinya persahabatan kita. Beristirahatlah Sahabatku, dalam tidur panjangmu. Bermimpilah tentang Kota Mekkah, tentang Baitullah, tentang Hajar Aswad, tentang Madinah yang cantik, tentang Raudah, tentang semua kecintaanmu.

Doaku selalu menyertaimu………

Belajar malu dari Karina

20

Posted by | Posted in My Life | Posted on 18-07-2009

Membaca tulisan Komuter di shoutbox… update dunk…ditunggu ceritanya… membuat saya berpikir, apa yang harus diceritakan?

Sepanjang minggu ini banyak sekali kejadian, tentang Adek yang baru masuk sekolah TK dan komentar pertamanya tentang sekolah, “….. capek menghitung berapa teman Adek” Maklum selama ini temannya mainnya hanya ada beberapa orang.

Atau tentang meeting Tim IBSN via YM yang heboh..sampai-sampai Pak Ketua ngomel, “…conference koq ribut, kayak ngajar anak SMP outbond..” Bagaimana tidak ngomel, Mas Agung, Mas Didien dan Mbak Fitri, termasuk saya semua berebut bicara (sebenarnya sih berebut menulis karena bukan voice conference), sementara para senior yang lain saya tidak berani menyebutkan, takut kualat.

Mungkin cerita tentang kerjaan di kantor… yang lebih baik tidak dibahas disini.

Atau yang paling up date tentang meledaknya bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, yang membuat jantung rasanya berhenti apalagi saat menyaksikan headline news yang ada hampir di semua saluran tv.

Semua kejadian melibatkan beragam rasa di hati. Senang, bahagia, marah, kecewa dan sedih, yang semua mempengaruhi cara berpikir saya.

Dari banyak kejadian disepanjang minggu ini ada satu kejadian yang sungguh-sungguh membuat saya malu pada diri sendiri sekaligus terharu.

Jodoh, rezeki, dan mati memang menjadi rahasia Sang Maha Kuasa. Begitu juga dengan nasib, tidak ada seorang pun yang bisa tahu apa yang akan terjadi kepada kita esok, bulan depan atau setahun yang akan datang, bahkan satu menit kedepan kita tidak bisa memastikan bagaimana kejadiannya.

Ceritanya tentang peristiwa kecelakaan yang dialami oleh puteri sahabat dekat saya. Karina, namanya, dia seorang gadis berkerudung, masih kuliah semester III di Universitas Mulawarman. Kecelakaan terjadi dalam perjalanan menuju kampus, motor yang dinaikinya jatuh ditikungan paling berbahaya di jalur Tenggarong – Samarinda. Beruntung sekali disaat kejadian seorang pegawai rumah sakit melintas, yang kemudian menolongnya.

Niat untuk melihat nilai hasil semesteran dan mengikuti pengajian di mushola kampus, tidak terlaksana, justru hari itu harus berada dirumah sakit dengan luka robek di dahi, tulang hidung retak dan luka parah pada mulut dan gusinya, belum lagi luka-luka ditangan dan kaki.

Sejak dia masih kecil saya mengenal Karina hingga tumbuh menjadi seorang gadis, pemalu tetapi cemerlang otaknya, sedikit keras hati dan punya pendirian. Satu yang paling jarang saya temukan diantara gadis-gadis remaja yang saya kenal, Karina begitu istiqomah menjaga hijabnya. Rok panjang dan kerudung panjangnya tidak pernah terpengaruh oleh berbagai macam mode pakaian.

Mengapa saya harus malu dengan peristiwa yang dialami Karina, karena saya merasa belum mampu seperti dia, mungkin karena terluka didalam tubuhnya membuat Karina beberapa kali memuntahkan darah, tetapi pada saat seperti itu ketika semua orang mengkhawatirkan dirinya, masih sempat dia berbisik ke pada ibunya, …jilbabku mana..jilbabku…

Ada lagi kejadian yang membuat mata saya basah karena terharu, malamnya saya datang menjenguk, sulit mengenali wajahnya yang lebam membengkak dan terluka, disaat harus buang air kecil, dia menolak keras melakukannya dengan pispot, sulit sekali membujuknya karena sungkan harus membuka pakaian bawahnya. Padahal untuk mengangkat kepala belum diperbolehkan. Ketika ibunya bertanya sanggup apa tidak berjalan menuju wc, dia mengangguk pelan dan dengan suara lirih berkata karena mulut yang membengkak, “…insya Allah”

Karina berhasil mengajarkan saya tentang keyakinan yang begitu kuat dijaganya. Membuat saya malu, karena belum mampu berhijab sesuai syar’i. Malam itu ketika saya pulang, sambil berjalan menuju gerbang Rumah Sakit Islam Samarinda, hati saya berbisik dan berdoa untuknya… Ya Allah, dia lah permata ayah bundanya, calon bidadari disurga-Mu, mohon sembuhkanlah dia.