Hari kamis empat hari yang lalu menjelang pukul satu siang, saya masuk mushola kantor ketika shalat djuhur berjamaah telah selesai.
Hanya tinggal tiga orang teman yang masih bertahan di mushola. Satu orang masih shalat sunat ba’diyah dzuhur, satu orang berbaring dibawah air conditioner, udara siang ini memang sangat panas. Satu orang lagi duduk bersimpuh bersandar dengan lengan kanannya. Persis didepan lemari mukena. Matanya menatap keluar mushola melalui pintu yang terbuka.
Saya melempar senyum pada teman yang terakhir tadi, kemudian berjalan kearah lemari dimana mukena diletakkan. Selesai saya melaksanakan shalat dzuhur ternyata dia masih saja berada disana, memandang nanar ke arah luar, melamun seakan pikirannya terbang entah kemana.
Sambil memasukkan mukena kedalam lemari, saya bertanya padanya, “….lagi mikir apa… ? “
Jawabnya, “… ngga mikir apa-apa” . Saya tahu dia berbohong, kemudian mencoba terus bertanya, ” …. jangan bohong, ketahuan kalau lagi mikir sesuatu”
Akhirnya dia menjawab pelan, “…..sedang berpikir bagaimana jika nyawa ini berpisah dari raga, tentu sangat sakit rasanya” suaranya seperti tertelan, seakan tidak sanggup untuk diselesaikan.
Saya pun ikut tertegun, memandangi wajah saya pada kaca lemari yang sejak tadi saya pergunakan sebagai cermin untuk merapikan jilbab saya. Basah terasa dilubuk hati saya.
Ternyata kematian yang dipikirkan sahabat saya, sehingga tanpa sadar dia duduk termenung begitu lama.
Sahabat Beranda Hati sekalian, dengan keterbatasan pengetahuan saya, ijinkan saya dalam posting kali ini merangkum beberapa hal yang pernah saya baca dari beberapa referensi tentang manfaat mengingat kematian, untuk menjadi pengingat kepada saya pribadi dan bagi yang mau mengambil manfaat dari tulisan ini.

Read the rest of this entry »