Wawan versus Pemerintah
Wednesday, February 3rd, 2010Waktu magrib telah berlalu, saya sedang memperhatikan si bungsu yang sedang bermain, ketika suami memberitahu bahwa ada seseorang diruang tamu menunggu saya.
Saya memandang seorang anak laki-laki yang ada didepan saya, perlu beberapa saat bagi saya untuk bisa mengingat namanya, sebelum akhirnya saya duduk didekatnya.
Wawan, namanya. Saya berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali saya berjumpa dengannya, bulan Ramadhan setahun yang lalu, ketika saya dan suami mengantar takjil untuk berbuka puasa ke sebuah langgar didaerah padat penduduk di tengah Kota Tenggarong. Rasanya waktu itu dia masih bocah kecil seperti yang sudah saya kenal, menyapa saya sebentar kemudian menghilang kedalam gang disamping langgar.

